Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 18

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 18by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 18My HEROINE [by Arczre] – Part 18 BAB XIV: SECOND IMPACT I #PoV Yuda# Han Jeong, wanita yang aku cintai itu sekarang tidur dalam dekapanku. Iya, inilah yang terjadi. Aku mencintainya. Aku akan lakukan apa saja untuknya. Pagi pun tiba. “Jung?” kataku. Han Jeong menggeliat. “Sudah pagi.” “Hmm,” erangnya. “Sudah pagi,” bisikku lagi. Dia lalu […]

tumblr_nwvqgl4ykb1ufftt9o3_500
tumblr_nkdqelsHUw1tttj14o2_250tumblr_nwyhg8eIid1u6a9yio3_500

My HEROINE [by Arczre] – Part 18

BAB XIV: SECOND IMPACT I

#PoV Yuda#

Han Jeong, wanita yang aku cintai itu sekarang tidur dalam dekapanku. Iya, inilah yang terjadi. Aku mencintainya. Aku akan lakukan apa saja untuknya. Pagi pun tiba.

“Jung?” kataku. Han Jeong menggeliat. “Sudah pagi.”

“Hmm,” erangnya.

“Sudah pagi,” bisikku lagi.

Dia lalu membuka matanya. Wajah pertama kali yang dilihat adalah aku. Kami berdua tersenyum kemudian bibir kami saling berciuman. Kami pun bangun setelah itu, membersihkan diri kami dibawah guyuran shower. Aku belai tubuhnya dari belakang. Han Jeong menggeliat ketika aku menciumi lehernya. Tangan kanannya melingkar di leherku, aku meremas buah dadanya dari belakang. Oh, aku cinta dia. Aku rasanya tak ingin melepasnya begitu saja. Dia pun berbalik dan kami berciuman lagi.

Tanganku sudah bergerilya di buah dadanya, menstimulus putingnya yang kini sudah mengeras. Aku mengangkat kaki kiri Han Jeong, lalu tubuhnya aku dorong hingga menempel di dinding kamar mandi. Kemudian aku memasang batangku di depan kemaluannya. Bibirku masih belum lepas dari bibirnya. Aku terus menghisap lidahnya dan menggelitik rongga mulut kekasihku ini.

Akhirnya batang kerasku pun masuk. Han Jeong sedikit tersentak. Ciuman kami terlepas. Pinggulku pun bergerak maju mundur. Menekan selakangan Han Jeong yang kini kemaluannya becek oleh lendir kewanitaannya. Kulit batangku menggesek rongga lembut yang kini memijat-mijat batangku seperti vacum cleaner. Kami saling bertatapan. Wajah Han Jeong yang cantik menatapku dengan pandangan sayu, bibirnya yang lembut terbuka menandakan ia sangat terangsang. Kedua tangannya kini melingkar di leherku.

Aku bergerak maju mundur dengan kecepatan normal. Tak terburu-buru. Aku ingin menikmati setiap momen ini, Han Jeong pun sepertinya setuju demikian. Kami benar-benar sudah mabuk cinta, tak ingat apa-apa lagi.

“Yuda, terusss…aahh!” lenguhnya.

“Sayangku…ohh…aku cinta kamu,” berkali-kali aku katakan itu. Berkali-kali aku katakan kepada Han Jeong betapa aku sangat mencintainya. Han Jeong makin erat memelukku. Ia seolah benar-benar tahu rasa cinta di dalam hatiku.

Setelah lama aku memompa, kemaluanku pun mulai gatal. Rasanya sudah diujung dan ingin meledak. Iya, aku akan sampai pada puncak orgasme. Dan sepertinya Han Jeong pun merasakannya.

“Aku mau nyampe Yud….” bisiknya.

“Aku juga,” kataku.

AKu makin cepat memompanya. Dan…CROOOOOTTT CROOOTT! Kami menjerit bersama saat cairan kenikmatan kami memancar bersama-sama. Aku dan Han Jeong saling berciuman. Melepaskan segala kerinduan kami, menumpahkan segala perasaan kami. Untuk sesaat kami saling bertatapan, memahami apa yang baru saja kami lakukan. Kemaluanku sudah terlepas dengan sendirinya.

“Han Jeong, aku berjanji. Aku akan melindungimu, aku akan setia kepadamu,” kataku.

“Dan aku akan melakukan apa saja untukmu, Yuda,” katanya.

Setelah kami berdua mandi. Aku diceritakan oleh Han Jeong sesuatu yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Setelah sarapan hebat pagi itu. Han Jeong dan aku duduk di bale-bale di luar rumah. Dia menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Han Jeong bersenandung, lagunya Iskha.

Wahai Kasih, dengarkan diriku
Kutakkan mengulangi lagi
Wahai Kasih, peluklah aku
Karena ku takkan melepasmu lagi

Hati ini pun lelah tuk bersandar
Apa yang bisa aku lakukan
Kala jiwa ini membutuhkan kerinduan
Dari dirimu yang nun jauh di sana

Wahai kasihku
Dengarkanlah kata rindu di hatiku
Kuingin kau rasakan rasa cintaku
Bahwa hati ini adalah untukmu….

“Wah, kamu suka ya lagunya?” tanyaku.

Han Jeong mengangguk.

“Aku juga suka,” aku memeluk Han Jeong.

“Yuda, aku ingin mengatakan kepadamu sebuah rahasia. Kamu mau menjaganya?” tanya Han Jeong.

“Kenapa? Rahasia apa?”

“Ya karena ini emang masih rahasia. Keluargaku juga menyuruhku untuk merahasiakannya. Karena bisa jadi hal buruk kalau sampai nanti ketahuan. Terlebih setelah tahu siapa aku sebenarnya. Aku tak ingin rasa cintamu kepadaku beruba Yud.”

“Tidak akan. Katakanlah!”

Han Jeong tiba-tiba berdiri. Dia menampakkan punggungnya sambil menoleh ke arahku. Pose ini…sepertinya aku pernah melihatnya.

“Aku selama ini melindungi orang-orang, melindungimu, melindungi masyarakat dari kejahatan. Tidak ada orang lain yang bisa menahan beban seperti aku. Aku juga sebenarnya tak bisa lepas dari beban ini. Awalnya aku tak pernah percaya bahwa pahlawan superhero selama ini aku kagumi adalah pamanku sendiri dan sekarang tongkat estafetnya aku yang memegangnya.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Yuda, aku adalah Black Knight.”

Oke, ini nggak lucu. Aku ketawa. Eh, Han Jeong malah balik badan dan menjewerku. “Adududuh!”

“Aku serius!”

Aku menatap matanya. Sorot mata Han jeong tajam menusuk. Eh, dia serius?

“Maaf, kamu serius? Benarkah?” tanyaku.

Ia melepaskan telingaku dan mengangguk. “Aku adalah Black Knight, maka dari itulah kemarin itu aku tahu siapa kamu.”

Ah…pantas saja. Tapi aku masih tak percaya.

“Trus, kamu berubahnya bagaimana?” tanyaku.

“Aku tiap ke sekolah pasti membawa sebuah box di ransel, bukan? Kadang pula aku ijin ke toilet tapi lamaaa banget. Salah satunya karena aku menjadi Black Knight. Sekarang ini beltnya sedang diperbaiki, kemarin aku hampir saja mati ketika puluhan robot menyerangku. Saat ini kami butuh bantuan karena rumah kami sudah tidak aman lagi, kamu tahu kan tempat buat kita latihan dulu? Apa bisa kami jadikan tempat itu sebagai base camp sementara?”

Aku mengerutkan dahi. Mungkin yang dia maksud sebuah padepokan yang letaknya berada di lereng gunung Tangkuban Perahu. Tapi jauh sekali kalau harus ke sana.

“Sebentar, aku masih shock. Jadi kamu Black Knight dan alat berubahmu sedang rusak? Lalu kamu butuh tempat untuk base camp sementara?”

“Iya, karena musuh sudah tahu keberadaan kami.”

“Siapa musuhnya?”

Han Jeong menggeleng, “Aku tak tahu. Tapi dia bisa menjebol sekuriti keluarga Hendrajaya dengan mudah. Dia bukan orang sembarangan.”

“Kalau kamu mau, di sini saja nggak apa-apa. Mereka juga nggak akan menyangka kalau kamu sembunyi di sini. Lagian tempat ini cukup jauh dari keramaian,” kataku.

“Ah, ide bagus!” Han Jeong segera mengambil ponselnya. “Halo?! Mama….”

Han Jeong pun berbicara dengan mamanya, entah apa yang mereka bicarakan. Ia tampak gembira sekali, sesekali ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Setelah menutup teleponnya ia pun memegang tanganku.

“Sebentar lagi mereka datang ke sini. Makasih ya Yud!? Tapi ayah dan ibumu bagaimana?” tanyanya.

“Gampang, itu. Aku akan mengurusnya,” jawabku. Yah, pastinya nggak gampang sih. Tapi kalau aku pakai alasan Han Jeong adalah Black Knight, mungkin lain soal.

Setengah jam menunggu. Kemudian tampak beberapa mobil mulai masuk ke halaman rumahku yang memang cukup besar. Dari dalam mobil keluarlah papa dan mamanya Han Jeong. Lalu seorang tua, nggak tahu siapa dia. Kemudian ada Hana, Ryu? Lho, kenapa Ryu ada di sini? Han Jeong langsung memegang lengan mamanya.

“Yuda?” panggil Papanya Han Jeong.

Aku melihat dari dalam mobil ada seorang keluar dipapah oleh Hana dan mamanya untuk bisa duduk di kursi roda. Hmm? Itukan papanya Hana. Wah, banyak banget? Ini keluarga Hendrajaya semua??

“Yuda, kami mohon bantuanmu,” kata papanya Han Jeong.

“Ini keluarga Hendrajaya semua?” tanyaku.

“Iya, kalau tak keberatan kami pinjam tempatmu sebentar,” jawab mamanya Han Jeong.

“Aku sih tak keberatan. Silakan saja,” kataku.

**~o~**

Rumahku jadi markas rahasia. Phew. Aku memang ada sebuah ruangan kosong, lebih tepatnya tempat latihan atau orang biasa menyebutnya Dojo. Tapi bentuknya lebih seperti joglo. Luas. Biasanya kami gunakan kalau di halaman sedang hujan maka tempat ini biasa digunakan untuk latihan. Sekarang tempat ini ada banyak sekali komputer, kabel-kabel, dan berbagai peralatan yang aku sendiri nggak tahu fungsinya apa.

Agak terkejut pula ketika sebuah truk kontainer terparkir dan beberapa orang mengeluarkan peralatan-peralatan itu dan memasangnya di jogloku. Aku sekarang baru percaya bahwa Han Jeong adalah Black Knight.

“Ryu-kun, kamu juga berarti?” tanyaku.

“Beda. Aku justru minta tol…long kepada mereka, l….lllalll…llu kita bertemu. Kemarin Han Jeong-chan dapat serangan,” katanya. Ryu sepertinya berusaha keras untuk bisa mengucapkan L.

Aku sepertinya hopeless gini. Semua teman-temanku menjadi superhero. Aku aja yang nggak. Papanya Han Jeong, memberi isyarat agar aku ikut dengannya. Aku pun mengikutinya. Kami kemudian berada di ruangan yang berbeda dengan semua orang yang sekarang ini ada di joglo.

“Ada apa ya, Om?” tanyaku.

“Han Jeong sudah cerita semuanya.”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu sudah jadi kekasihnya, aku hanya ingin bilang satu hal. Jangan kecewakan dia.”

“Oh..iya, aku janji.”

“Aku yakin kamu akan berjanji seperti itu. Aku percaya kepadamu. Sebenarnya juga ada sebuah rahasia yang kamu belum mengetahuinya. Sebaiknya aku ceritakan saja sekarang, kalau kamu ingin tahu lebih banyak bisa bertanya kepada ayahmu.”

“Maksudnya Om? Rahasia apa?”

“Aku kenal ayahmu ketika mengantarkan Han Jeong ke sini. Dan kami pun dekat. Sampai kemudian suatu hari kami bicara banyak hal tentang hal-hal rahasia. Aku berbicara tentang bagaimana aku menghancurkan genesis waktu itu. Dan dia juga menceritakan tentang dirinya, aku sama sekali tak menduganya.”

“Genesis? Teroris yang dulu itu?”

“Iya, aku, kakakku–papanya Hana– dan mamanya Han Jeong mati-matian berjuang untuk mengalahkan genesis. Dan ayahmu dia juga berjuang di waktu yang sama melindungi ibumu dari pembunuh bayaran. Kakekmu tidak selamat waktu itu. Kalau kamu lihat luka-luka di tubuhnya, itu adalah hasil dari pertarungan terakhirnya.”

“Ayah tak pernah cerita tentang hal ini.”

“Tentu saja, ia mengkhawatirkanmu. Nama aslinya juga disembunyikan karena perpolitikan yang saat itu terjadi membuat ayahmu mengasingkan diri dan mengubah namanya. Semua itu juga agar kamu selamat. Ayahmu sangat hebat, dia adalah ex anggota Divisi Tangan Malaikat. Agen terbaik waktu itu. Aku yakin beliau akan menceritakannya kepadamu suatu saat nanti. Hanya saja menurutku saat ini adalah saat yang tepat.”

Baiklah, setelah shock Han Jeong adalah Black Knight, sekarang aku shock ketika papanya Han Jeong menceritakan tentang ayahku. Kini beliau menepuk-nepuk pundakku. Duh, keras banget. Iya sih ototnya segedhe itu.

“Jaga Han Jeong ya?” katanya. “Kalau kamu sampai menyakitinya, aku akan menghajarmu.”

Aku merinding, papanya Han Jeong bicara begitu sambil senyum. Aku hanya mengangguk. Tak berani bicara. Beliau tahu kalau aku sekarang gemetar, setelah itu beliau meninggalkanku sendiri. Sekarang ini semuanya menjadi aneh. Tak disangka saja. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Dari ayah. Aku segera mengangkatnya.

“Halo?” sapaku.

“Yuda? Di rumah ada Om Hiro ya?” tanya ayah.

“Iya, banyak orang di rumah,” jawabku.

“Iya, tadi Om Hiro udah cerita. Ayah sebentar lagi datang. Ada titipan dari kenalan ayah buat kamu.”

“Titipan?”

“Iya, teman ayah lebih tepatnya. Dulu ayahnya menolong ayah dan sekarang dia ingin memberikanmu sesuatu. Tapi aku harap kamu tidak kaget nanti. Om Hiro sudah menceritakan sesuatu kepadamu?”

“Sedikit, tapi katanya ayah yang akan menceritakannya sendiri.”

“Iya, memang sudah saatnya. Tunggu saja ayah di rumah. Oh iya, jangan sampai kecewakan Han Jeong.”

“Lho, ayah tahu?”

“Ya tahulah. Anak sendiri koq nggak tahu. Hahahahahahahahah.”

Aku langsung menutup teleponnya. Koq semuanya jadi tahu sih?

*********o***********

Aku melihat di layar monitor CCTV tampak rumah Han Jeong digerebek. Bukan oleh aparat, tapi oleh pasukan khusus. Begitu juga rumahnya Hana. Kenapa pasukan khusus sampai menggerebek rumahnya? Dari kamera CCTV itu, aku bisa melihat bagaimana mereka menggeledah rumah itu. Kami semua menyaksikan aksi penggeledahan itu.

Han Jeong memeluk lenganku. Ada getar rasa ketakutan dalam dirinya. Ya pastilah.

“Pasukan khusus? Kenapa sampai menggeledah rumah kitaa? Tanpa ijin pula?” gumam papanya Han Jeong.

“Untunglah kita tadi udah ngirimin anak-anak ke papa,” kata mamanya Hana.

“Sebentar, koq sepertinya ada yang aneh ya? Bagaimana mereka bisa mengendalikan pasukan khusus? Siapa orang yang ada di atasnya?” tanyaku.

“Sudah aku bilang bukan? Ini ada hubungannya dengan Putra Nagarawan,” kata profesor Andy.

“Mantan presiden?” gumamku.

“Di jaman ayahmu dia jadi presiden dan sekarang ingin mencalonkan diri lagi,” kata profesor Andy. “Kalau dia bisa mengendalikan pasukan khusus dan berbuat seperti itu, aku tidak terkejut.”

“Profesor, bagaimana Hypersuitnya?” tanya Om Faiz–papanya Hana.

“Kerusakan terbesar ada pada nanobot di bagian belt. Aku perlu mencharge energinya agar bisa dipakai lagi dan tenaganya pulih maksimal,” jawab profesor Andy.

“Lalu, tentang sistem operasinya?” tanya Han Jeong.

“Tenang aja, virusnya sudah aku buang. Kami menginstall ulang sistem operasinya. Jadi mestinya tidak ada masalah,” jelas Hana.

Entah kenapa aku khawatir sekarang dengan Han Jeong, lebih dari biasanya. Ataukah mungkin ini semua karena aku sangat mencintainya. Han Jeong pasti mengetahui apa yang aku rasakan dari caraku menggenggam tangannya. Seolah-olah aku tak akan melepaskannya lagi. Han Jeong, aku akan melindungimu. Sekalipun engkau Black Knight aku akan melindungimu sekuat tenagaku.

Tak berapa lama kemudian ayahku datang. Mobilnya pun terparkir di halaman. Dari dalam mobil aku melihat Yuni, ayah dan ibu keluar dari mobil. Melihat banyak mobil di halaman rumah membuat dia takjub. Om Hiro segera menemui ayahku, mereka berjabat tangan sambil berpelukan. Mereka berbincang-bicang sejenak. Kemudian Om Faiz juga ikut nimbrung. Mereka semua tampak membicarakan sesuatu yang serius.

Sementara itu ibuku masuk ke dalam rumah. Aku segera mencium tangannya.

“Tante,” sapa Han Jeong.

“Eh, Han Jeong. Apa kabar?” sapa ibuku.

“Baik,” jawab Han Jeong.

“Maaf merepotkan,” kata mamanya Han Jeong.

“Tak apa-apa, justru enak begini bisa ramai,” kata ibuku.

“Siang tante, saya sepupunya Han Jeong,” kata Hana.

“Oh, iya siang. Ini siapa?” tanya ibuku menunjuk Ryu.

“Oh, dia pacarnya Hana,” celetukku.

“Nani?” Ryu menegakkan alis.

“Nggak, nggak! Bukan! Ini temenku, temen sekelas. Hehehehe,” Hana menatap tajam ke arahku. Aku dan Han Jeong ketawa.

“Oh, ya ya,” kata ibuku sambil manggut-manggut. “Silakan saja, anggap rumah sendiri. Sebentar lagi juga kawan-kawan dari padepokan silat akan datang kemari.”

“Siapa mereka?” tanya mamanya Han Jeong.

“Mereka kawan, tak usah risau. Mereka bisa dipercaya,” kata ibuku. “Kak Moon, ikut sebentar yuk!?”

Mamanya Han Jeong menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu. Kemudian mereka berdua pergi. Yuni melihat-lihat komputer. Tampaknya ia baru kali ini melihat peralatan canggih itu.

“Kereeeeennn!” gumamnya.

“Awas lho ya, jangan disentuh!” kataku.

“Tenang aja kak, nggak bakal koq. Eh, ngomong-ngomong aku seneng juga lho kakak dapat pacar seorang superhero. Aku ngefans ama dia lho kak,” kata Yuni.

“Dari mana kamu tahu?” tanyaku.

“Ayah yang cerita. Jadi kapan kalian menikah?” tanya Yuni dengan polosnya.

“Eh? Itu masih lama…masih lama,” kata Han Jeong.

“Wah, sayang sekali. Jadi masih lama dong aku punya keponakan,” kata Yuni.

“Iya, sepertinya begitu. Hehehehe,” Han Jeong cengar-cengir sendiri.

Dari luar ayah kemudian masuk. Aku lalu mencium tangannya. Diikuti Om Hiro dan Om Faiz. Semuanya berkumpul, sepertinya bakal ada sesuatu yang besar nih.

“Semuanya, aku ingin menceritakan sesuatu,” kata ayah.

Semua orang yang ada di ruangan itu segera menoleh ke arah ayahku.

“Aku tahu identitas musuh kita sebenarnya siapa, hanya saja aku tak yakin. Ini semua adalah kejadian beberapa belas tahun yang lalu. Saat itu aku masih ada di divisi Tangan Malaikat. Divisi Bodyguard yang dibentuk oleh pemerintahan untuk melindungi orang-orang penting yang ada di negeri ini. Seluruh timku mati dibantai oleh pembunuh nomor satu saat itu Serigala Gurun. Pertarungan terakhirku mengakibatkan aku mendapatkan luka di sekujur tubuhku,” ayah melepaskan kemejanya. Dia memperlihatkan tubuhnya yang terdapat bekas luka. Entah pertarungan seperti apa yang beliau hadapi.

“Sekarang, hampir semua lini dijaga oleh musuh kita. Seharusnya dulu ketika Hiro dan Moon menumpas Genesis, ia juga harusnya menumpas musuh kita ini. Sayangnya dia tidak tahu, dan tangannya tak bisa menjangkau. Apalagi aku. Setelah aku ditolong oleh temanku James, aku pun mengganti identitasku menjadi bernama Jaka. Namaku yang sebenarnya adalah Arczre Zulkarnain. Bahkan identitasku ini pun tak diketahui oleh anakku,” sambung ayahku.

“Lalu musuh kita siapa sebenarnya?” tanya Han Jeong.

“Musuh kita adalah Putra Nagarawan, calon presiden kita saat ini. Pemilu sebentar lagi dan yang pasti dia akan menang. Aku yakin seratus persen dia akan menang. Entah apa yang akan dia rencanakan kalau menjadi presiden kelak,” kata ayahku.

“Satu-satunya harapan kita adalah Black Knight, kita harus memperbaikinya setelah itu kita tangkap Putra Nagarawan,” kata Om Hiro.

“Tidak, itu terlalu konyol,” kata ayahku. “Dia pasti dijaga oleh pasukan bayangan miliknya. Dia punya pengawal-pengawal yang sangat tangguh. Bahkan kalau dari ceritamu kalian diserang oleh para robot, aku merasa mereka punya lebih dari sekedar apa yang dikirimkan kepada kalian. Apa kalian tak pernah berpikir kejadian tentang serangan robot-robot akhir-akhir ini ada kaitannya?”

“Aku merasa juga gitu,” kata Hana. “Semua robotnya dihack, seolah-olah ingin agar Black Knight keluar dan mencoba kemampuannya. Dan perusahaan yang dicuri robotnya selalu sama. Terkecuali kemarin.”

“Kemarin, robot buatan Pindad. Robot militer,” kata Profesor Andy.

“Robot militer?” gumamku.

“Robot militer dan pasukan khusus yang menyerbu ke rumah kita. Bagus sekali,” kata Om Faiz. “Satu-satunya harapan kita adalah Black Knight. Profesor, kapan Black Knight siap?”

“Secepatnya,” jawab Profesor Andy.

“Yuda, kamu ikut aku. Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu empat mata,” kata ayah.

“Iya ayah,” katatku.

Aku menoleh ke arah Han Jeong sejenak. Ia menatapku dengan tatapan memberi semangat. Setelah itu aku pergi meninggalkan joglo ke ruang pribadi ayahku. Ruangan itu terletak di bawah tanah. Di ruangan ini ayah sering menyendiri, menulis atau bahkan bereksperimen sendiri. Kadang-kadang saja aku diajak masuk. Ruangan ini berukuran 4x5m, dindingnya mulai retak, catnya mulai memudar. Sekalipun begitu pajangan lukisan kaligrafi masih ada di sana dan lukisan-lukisan alam pegunungan dan juga kolam ikan masih terlihat indah.

Kami kemudian duduk di tengah ruangan. Aku dan beliau berhadapan. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin beliau utarakan kepadaku.

“Aku ingin apapun yang terjadi di atas tadi kamu tak beranjak sebelum ayah selesai mengatakan sesuatu kepadamu, bisa dimengerti?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Ini sesuatu yang penting. Dan untuk alasan itulah ayah pergi ke Pulau Karimunjawa. Seseorang sahabat ayah yang sudah lama ayah kenal. Dia memberikan sebuah tongkat estafet kepada ayah. Tapi ayah tak yakin.”

“Apa maksud ayah?”

“Aku ingin bertanya kepadamu Yuda, sebelum kamu keluar dari ruangan ini. Antara padepokan ini dan Han Jeong, apa yang akan kamu pilih?”

“Maksudnya?”

“Pikirkanlah baik-baik!” ayah meninggikan suaranya. “Waktu kita tak banyak.”

Kenapa ayah berkata seperti ini?

Kemudian ayah mengeluarkan dua buah kotak. Kotak yang pertama berwarna hitam. Kotak yang satunya berwarna keemasan. Ayah membuka kotak yang berwarna hitam. Aku melihat dua buah gelang berwarna abu-abu. Benda apa itu? Kemudian kotak yang berwarna keemasan dibuka. Ada dua buah karambit. Itukan??? Pusaka perguruan.

“Kalau kamu mengambil gelang ini, maka kamu akan memilih untuk menolong Han Jeong. Kalau kamu mengambil karambit ini maka kamu akan bertanggung jawab terhadap padepokan ini. Pilihlah dengan bijak, karena ayah tak akan menyerahkan keduanya kepadamu.”

“Kenapa ayah bicara seperti ini?”

“Ini sudah saatnya ayah memberikan pilihan ini kepadamu. Karena apa? Karena kamu telah siap menerima tingkat sepuluh.”

“Tingkat sepuluh….?”

“Tapi pilihannya cukup sulit. Kamu memilih Han Jeong, ataukah memilih padepokan ini. Salah satunya tentu ada konsekuensi yang harus kamu terima. Dengan memilih Han Jeong, kamu tidak ayah ijinkan untuk menyebarkan silat Harimau. Sedangkan kalau kamu memilih padepokan ini, maka kamu akan ayah larang untuk menolong Han Jeong. Karena bukan tempatnya untuk orang sepertimu menolongnya.”

“Ayah, ini….ini terlalu berat. Bagaimana mungkin aku tak bisa menolong kekasihku sendiri?”

“Karena memang seperti itu. Kamu tak tahu siapa yang kamu hadapi, apakah dengan dirimu yang sekarang kamu bisa menolong Han Jeong?”

“Ayah tahu siapa lawan kita?”

“Ya. Ayah tahu. Kamu kuberikan pilihan ini demi kebaikanmu. Pikirkanlah baik-baik.”

Aku menghela nafas. “Ayah sudah tahu jawabanku. Aku tak perlu mengatakannya. Aku akan pilih…………”

(bersambung….)

Author: 

Related Posts