Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 49

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 49by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 49Pendekar Naga Mas – Part 49 Badai melanda Siau-lim-si. Setelah meninggalkan kedua gadis itu, Cau-ji menembusi sebuah kebun bunga yang indah dan memasuki ruang utama, belum melangkah masuk dia sudah mendengar suara pembicaraan dari sisi kanan.. Dia tahu ketiga gadis itu sedang berbincang-bincang, terdorong rasa ingin tahu, dia pun mendekati tempat itu sambil menahan napas. […]

multixnxx-young pregnant sluts -11 multixnxx-young pregnant sluts -12 multixnxx-young pregnant sluts -15Pendekar Naga Mas – Part 49

Badai melanda Siau-lim-si.

Setelah meninggalkan kedua gadis itu, Cau-ji menembusi sebuah kebun bunga yang indah dan memasuki ruang utama, belum melangkah masuk dia sudah mendengar suara pembicaraan dari sisi kanan..

Dia tahu ketiga gadis itu sedang berbincang-bincang, terdorong rasa ingin tahu, dia pun mendekati tempat itu sambil menahan napas.

Terdengar Suto Bun berseru kaget, “Apa? Enci Ing, tadi kau mengatakan bahwa adik Cau telah menyelamatkan ketiga tuan putri dari kerajaan?”
“Benar, hanya saja identitas ketiga tuan putri ini sangat rahasia hingga sampai sekarang adik Cau masih belum tahu keadaan yang sebenarnya. Lebih baik kalian pun ikut menjaga rahasia.”
“Enci Ing, lebih baik kita beritahukan rahasia ini kepada adik Cau,” sela Suto Si cepat, “sebab selama ini peraturan yang berlaku dalam keluarga kerajaan sangat ketat, bila di antara mereka sampai terlibat asmara, bisa sukar untuk menyelesaikannya.”
“Waduh, celaka,” Siang Ci-ing menjerit kaget, “kalau dilihat dari mimik muka ketiga tuan putri itu, tampaknya mereka sudah jatuh cinta kepada adik Cau, padahal pihak kerajaan melarang tuan putri menikah dengan rakyat biasa, apalagi kawin dengan orang persilatan!”
“Enci Ing, bagaimana reaksi adik Cau sendiri?” buru-buru Suto Si bertanya.
“Soal ini … aku sendiri pun kurang jelas! Sebab dia memang selalu bergurau dengan siapa pun, aku sendiri tak bisa membedakan apakah di balik gurauan itu terselip perasaan.”
“Enci Ing, coba kau bayangkan kembali,” desak Suto Bun lagi, “sewaktu memandang mereka apakah sinar mata adik Cau nampak aneh, sama seperti waktu dia memandang ke arah kita?”
“Soal ini … terus terang saja adik berdua, sewaktu bertemu adik Cau tadi, Cici kegirangan setengah mati hingga sama sekali tidak memperhatikan hal lain lagi.”

Kedua gadis itu saling pandang sekejap, lalu tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cau-ji jadi amat terperanjat.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau ketiga bersaudara Cu adalah tuan putri kerajaan, tak heran gaya bicara Cu Bi-lian begitu besar dan takabur, sementara gerak-gerik mereka bertiga pun memancarkan keanggunan.

Sejak melakukan perjalanan bersama Bwe-toa-siok kali ini, secara beruntun dia telah “menghabisi” dua bersaudara Suto serta Siang Ci-ing, mengenai masalah inipun dia sempat pusing kepala dan tak tahu bagaimana harus memberi penjelasan setelah pulang nanti.

Apalagi jika sampai meniduri ketiga tuan putri kerajaan, bisa jadi perbuatannya ini akan mengundang hukuman pacung seluruh keluarga besarnya, bila hal semacam ini benar-benar terjadi, bukankah dirinya akan menjadi manusia yang paling berdosa?

Berpikir sampai di situ, tak tahan lagi dia jadi merinding dan bersin berulang kali.
Suto Si segera menangkap suara aneh dari luar pintu, dengan hati tercekat segera hardiknya, “Siapa di situ?”

Cau-ji tahu, sedikit konsentrasinya buyar, dia telah membocorkan jejak sendiri, maka jawabnya nyaring, “Enci Si, Siaute!”

Sambil berkata, dia segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Ketiga gadis itu segera bersorak kegirangan,
“Adik Cau!”
Tanpa membuang waktu lagi mereka langsung menubruk ke depan.
“Tunggu dulu!” seru Cau-ji, “satu per satu, kalau tidak, Siaute bisa jatuh terjerembab.”

Sambil berkata dia langsung maju sambil memeluk erat Siang Ci-ing.
Secara bergilir ketiga nona itu dipeluk oleh pemuda itu, hal ini membuat mereka pun bias duduk kembali dengan perasaan puas.
Menyaksikan paras muka gadis-gadis itu sudah segar kembali, Cau-ji tahu semua itu tentu berkat khasiat Cay-seng-wan yang mujarab, maka dengan perasaan kuatir tanyanya, “Cici, kalian sudah tidak apa-apa bukan?”
“Tidak apa-apa,” sahut gadis-gadis itu sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu,” seru Cau-ji sambil menghembuskan napas lega, “kurangajar betul Su Kiau-kiau si nenek busuk itu, berani betul dia melukai bini kesayanganku, kalau sampai bertemu
aku kelak, pasti akan kuhajar dia hingga remuk tulang belulangnya.”

Perkataan itu bagaikan madu yang tumpah dari tempatnya, membuat ketiga nona itu merasakan hatinya manis sekali.
Menyaksikan wajah kesemsem ketiga orang itu, Cau-ji ikut terpesona dibuatnya, diam-diam napsu birahinya muncul.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru nyaring, “Nona, ketiga nona dari keluarga Cu serta kedua orang Congkoannya datang menyambangi.”
“Cepat persilakan mereka masuk!” buru-buru sahut Siang Ci-ing.

“Baik.”
Siang Ci-ing memandang dua bersaudara Suto sekejap, lalu tanyanya, “Adikku, adik Cau, apakah kalian ingin bertemu dengan mereka?”

Belum sempat kedua nona itu menjawab, Cau-ji sudah berkata lebih dulu, “Enci Ing, kau saja yang pergi menjumpai mereka!”

“Baiklah, kalian boleh kongkow di sini,” Siang Ci-ing manggut-manggut, habis berkata dia pun beranjak pergi.
Sepeninggal gadis itu, kembali Cau-ji bertanya, “Cici, benarkah Su Kiau-kiau mampu menghadapi kalian berdua sekaligus?”

“Tentu saja tidak!” Suto Bun menggeleng, “coba kalau dia tidak dibantu empat wanita lain, kami berdua yakin dapat mengalahkan dia dalam lima ratus gebrakan.”
“Apa? Butuh lima ratus gebrakan untuk mengalahkan dia? Terlalu lama,” teriak Cau-ji.
“Sute, kau tidak tahu, bukan saja Su Kiau-kiau memiliki jurus serangan yang aneh dan tangguh, bahkan tenaga dalamnya amat sempurna, sulit untuk dihadapi.”

“Bila di kemudian hari bertemu lagi, kalian saksikan saja bagaimana caraku meringkusnya.”
Tiba-tiba Suto Si merendahkan suaranya dan bertanya, “Adik Cau, aku dengar tempo hari kau telah menyelamatkan nyawa ketiga nona itu?”

“Nah, datang juga masalahnya” batin Cau-ji dalam hati, cepat dia menyahut sambil tertawa, “Benar, sesungguhnya kungfu yang dimiliki ketiga nona itu sangat tangguh, namun dibandingkan kalian berdua, kemampuannya masih kalah setingkat!”
“Apakah mereka cantik?” buru-buru Suto Bun bertanya lagi.
“Cantik!” sahut Cau-ji sambil memeluknya, “bahkan bukan cantiknya hijau daun, tapi dibandingkan kalian berdua, mereka masih kalah setingkat.”
“Aku tak percaya.”
“Ayo jalan, kita buktikan bersama,” sambil berkata Cau-ji langsung bangkit berdiri.
“Sudah, tak perlu,” buru-buru Suto Si menukas sambil tertawa, “asal di hati Cau-ji masih ada tempat buat kami berdua, peduli amat siapa lebih cantik.”

Cau-ji segera memeluk pula tubuh Suto Si, katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Enci Si, buat apa kau berkata begitu? Memangnya kau anggap Siaute adalah lelaki yang suka yang baru bosan dengan yang lama?
“Cici, mulai hari ini selama tidak memperoleh persetujuan kalian, biar orang-tuaku yang menjodohkan pun Siaute tak akan menggundik perempuan lain.”

Merah padam wajah dua bersaudara Suto mendengar perkataan ini. Terdengar Suto Si segera berkata, “Adik Cau, Cici hanya bergurau, jangan dianggap serius.”
Saking paniknya, air mata sampai bercucuran.
“Adik Cau, selama berpisah denganmu, perasaan Cici selalu bimbang tanpa pegangan, bila ucapanku agak menyinggung perasaan, harap jangan kau masukkan ke hati.”
“Cici, tahukah kau, sejak bertemu Cu bersaudara, secara diam-diam aku telah membandingkan mereka bertiga dengan dirimu. “Kalian tak usah kuatir, tak nanti demi hidup makmur dan terhormat Siaute memutuskan akan mengawini Cu bersaudara, bila kalian tetap tak percaya, ayo sekarang juga kita pergi meninggalkan tempat ini”
“Jangan,” buru-buru Suto Si mencegah, “adik Cau, Cici percaya kau memang benar-benar mencintai kami, yang Cici kuatirkan justru kalau sampai kehadiran tiga bersaudara Cu bakal mendatangkan kesulitan bagi keluarga Siang.”
“Benar, adik Cau,” sambung Suto Bun pula, “walaupun semalam Su Kiau-kiau telah menarik mundur pasukannya, menurut laporan, mereka masih berada di sekitar sini, mana boleh kita meninggalkan wilayah sini.”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang agak parau tapi nyaring berkumandang dari arah kebun, “Siang Kongcu, nona Siang, kebun bunga kalian sangat cantik, pada hakikatnya bagaikan surge dunia, Lohu harus banyak belajar dari kalian.”

“Ah, mana, mana, Congkoan terlalu memuji, silakan masuk!” jawab Siang Ci-liong nyaring. “Cici,” Cau-ji segera berbisik, “orang itu adalah Congkoan keluarga Cu, mungkin kedatangannya
untuk mencari kita.”

Dengan cepat mereka bertiga berdiri sembari membenahi pakaian yang dikenakan.
Benar saja, tak lama kemudian tampak dua bersaudara Siang dengan mengajak tiga bersaudara Cu dan kedua Congkoannya telah berjalan masuk.

Sambil tersenyum Siang Ci-ing segera memperkenalkan tamu-tamunya, “Adik Cau, kedua Congkoan mendengar kalau kedua Cici merupakan keturunan sahabat karibnya, mereka ingin datang menjumpai kalian!”
Tergopoh-gopoh dua bersaudara Suto memberi hormat, lalu kata Suto Si, “Maafkan Wanpwe, karena tidak mengetahui nama besar Cianpwe berdua.”

“Nak, kami adalah sahabat karib kakek dan nenekmu,” ujar Chin Tong dengan ramah, “apakah kalian pernah mendengar nama Thian-te-sian-lu?”

Buru-buru dua bersaudara Suto menjatuhkan diri berlutut dan berseru dengan air mata berlinang, “Menjumpai Yaya dan nenek!”

Dengan keheranan Chin Tong memandang Leng Bang sekejap, lalu tanyanya tercengang, “Nak, mengapa kalian..
Sahut Suto Si sambil menyeka air mata, “Keluarga Suto kami habis dibantai orang-orang Jit Seng-kau, kami dua bersaudara pun berhasil lolos dari kepungan karena pengurus tua kami menggadaikan nyawa untuk memberi perlindungan.”
“Menurut pesan terakhir pengurus tua kami, di dunia sekarang hanya Yaya dan nenek berdua yang bisa membalaskan dendam bagi kematian keluarga Suto, selama banyak tahun Si-ji telah berusah mati-matian menemukan kalian.”

Habis berkata dia pun menangis tersedu-sedu.
Cepat Chin Tong menarik bangun kedua gadis itu, katanya agak seseunggukan, “Nak, kedatangan kami berdua hari ini tak lain adalah berniat menerima kalian berdua menjadi cucu perempuan kami. Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, sungguh kebetulan sekali!”

Bicara sampai di sini, air matanya pun tak berbendung pula.
Leng Bang sendiri sambil menahan rasa sedih, ujarnya sambil tertawa, “Sungguh bagus sekali, hari ini merupakan hari yang sangat menggembirakan, kalian tak usah mengucurkan air mata lagi!”
“Betul, suatu kejadian luar biasa karena kalian semua telah berkumpul di rumahku” kata Siang Ci-liong pula sambil tertawa, “biarlah aku mengadakan perjamuan untuk merayakan hari ini.”

Selesai bersantap, Siang Ci-liong dengan membawa sebutir Cay-seng-wan pergi mengobati para jago dari kota Lok-yang yang ikut membantu pertempuran kemarin, sedangkan Cau-ji serta Leng Bang dengan membawa tiga butir Cay-seng-wan naik ke biara siau-lim-si.

Karena ingin secepatnya menyelamatkan nyawa anggota biara Siau-lim, kedua orang itu menempuh perjalanan cepat, begitu menambatkan kudanya di kaki bukit, secepat kilat mereka naik ke atas gunung.

Sepanjang perjalanan mereka saksikan noda darah berceceran di mana-mana, dari banyaknya pohon yang tumbang, bisa dibayangkan betapa sengitnya pertempuran yang berlangsung semalam.

Kedua orang itu segera mempercepat langkahnya menuju ke atas bukit, tak sampai sepeminuman teh kemudian, tibalah mereka berdua di depan bangunan yang porak-poranda.
Menyaksikan keadaan semacam ini, dengan suara geram Leng Bang berkata, “Perbuatan orang-orang Jit-seng-kau memang keji dan keterlaluan, bangunan kuno yang begitu megah ternyata sudah dihancurkan seperti ini!”

Mendadak terdengar seseorang berseru nyaring, “Omitohud!”
Dua Hwesio cilik berjubah abu-abu dan memegang pedang telah melompat keluar dari balik pintu, dengan pandangan penuh curiga mereka mengawasi Cau-ji berdua.

Sambil tersenyum Cau-ji segera berkata, “Cayhe berdua ada urusan penting ingin berjumpa dengan lt-ci Siansu, harap kalian mau membuka jalan!”

Bicara sampai di situ dia pun menunjukkan sebuah lencana yang bertuliskan “Liong-ing-hong”.
“Harap Sicu menunggu sebentar!” Hwesio cilik di sebelah kanan segera menyahut sambil berlari masuk ke dalam biara.

Setengah peminuman teh kemudian tampak It-ci Siansu dengan wajah berseri telah muncul di hadapan Cau-ji berdua.

Buru-buru Cau-ji memberi hormat seraya berkata dengan ilmu menyampaikan suara, “Cianpwe, Cayhe adalah Yu Si-bun, boleh Siansu bawa Cayhe untuk memeriksa para korban yang terluka dalam biara?”
“Omitohud, Buddha memang maha pengasih,” seru It-ci Siansu dengan wajah kegirangan, “kehadiran Sicu tepat waktu, silakan masuk!”

Dengan menelusuri jalan beralas batu putih, Cau-ji masuk ke dalam biara, sepanjang jalan yang tampak hanya bangunan yang hancur. Tak tahan serunya dengan gemas, “Perbuatan Su Kiau kiau memang kelewatan, dia pantas dicincang hingga hancur berkeping.” It-ci Siansu hanya menggeleng tanpa bicara.

Memasuki ruang Cay-ti-wan, terasa sekali suasana di tempat itu amat serius dan tegang, penjagaan dilakukan sangat ketat.
Begitu masuk ke dalam ruangan, maka tampaklah para pendeta yang terluka ada yang duduk, ada yang berbaring, jumlahnya mencapai ratusan orang.

Mereka bertiga langsung memasuki sebuah kamar kecil, di atas pembaringan duduk bersila seorang Hwesio berusia lima puluh tahunan yang mengenakan jubah berwarna kuning bergaris benang merah.

Begitu melihat kehadiran It-ci Taysu, pendeta itu segera memberi hormat sambil memanggil, “Suhu!” Kemudian ia berusaha bangkit.
Buru-buru It-ci Taysu mencegahnya sambil berbisik, “Ciangbunjin, kau tak perlu banyak adat, Lolap sengaja mengajak kedua orang Sicu ini untuk bertemu denganmu.”

Ternyata pendeta itu tak lain adalah Goan-thong Taysu, Ciangbunjin biara Siau-lim saat ini.
Baru saja ia menengok ke arah kedua orang itu, Cau-ji berdua telah melepas topeng kulit manusianya hingga muncullah seorang pemuda tampan dan seorang kakek berwajah angker.

Begitu melihat wajah asli Leng Bang, It-ci Taysu tampak sedikit tertegun, kemudian tanyanya, “Bukankah Sicu bermarga Leng?”
Leng Bang tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, hei Hwesio, ternyata daya ingatmu hebat juga, tepat sekali, Lohu memang Leng Bang!”

Dengan wajah berseri It-ci Taysu berkata lagi, “Sicu, tak kusangka setelah hidup mengasingkan diri hampir tiga-empat puluh tahun, hari ini bisa muncul di biara Siau-lim.”

Goan-tong Taysu begitu mendengar kakek yang berada di hadapannya adalah Leng Bang, kontan turun dari pembaringan sambil berkata penuh hormat, “Goan-tong menjumpai Lengcianpwe.”
“Ciangbunjin tak usah banyak adat, kedatangan Lohu hari ini adalah menemani Ong-kongcu mengantar beberapa biji obat.”
“Kongcu, kau dari marga Ong?” agak bingung It-ci Taysu berpaling ke wajah Cau-ji.

Setelah memberi hormat kepada Goan-tong Taysu, dengan nada minta maaf katanya kepada It-ci Taysu, “Cianpwe, maaf kalau Wanpwe terpaksa berbohong, mari kita selamatkan orang dulu sebelum bercerita tentang asal-usulku yang sebenarnya.”

Sambil berkata dia mengeluarkan tiga butir Cay-seng-wan dari dalam sakunya.
Begitu melihat pil Cay-seng-wan, tubuh Goan-tong gemetar keras saking terharunya. “Ciangbunjin, ambillah untuk menolong orang!” kata Leng Bang kemudian sambil tertawa.

It-ci Taysu mengiris sedikit pil itu dan diberikan kepada Goan-tong sambil ujarnya, “Ciangbunjin, kau telanlah lebih dulu!”
Sambil tersenyum Goan-tong Taysu menerima obat itu, setelah ditelan dia pun duduk mengatur pernapasan.

Cau-ji pun mencampur sisa obat ke dalam satu teko air, kemudian ia serahkan kepada dua orang Hwe-sio cilik agar dibagikan kepada semua korban yang terluka.

Selesai semua itu, It-ci Taysu baru membawa Cau-ji berdua menuju ke dalam sebuah kamar. “Cianpwe,” kata Cau-ji kemudian setelah memberi hormat, “Wanpwe segera akan melaporkan identitasku yang sebenarnya!”

Selesai mendengar penuturan itu, dengan wajah girang It-ci Taysu berkata, “Omitohud!
Ternyata Kongcu adalah keturunan keluarga Ong, tak heran kau memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya!”
Leng Bang ikut tertawa tergelak.
“Kalau dahulu Ong-loenghiong yang memimpin para jago menumpas perkumpulan Jit-sengkau, maka kali ini kita bakal mengandalkan kepemimpinan Ong-kongcu untuk menumpas Su Kiau-kiau beserta para begundalnya!”

“Cianpwe, harap kau jangan berkata begitu,” buru-buru Cau-ji menyela, “ada begitu banyak jago tangguh macam Cianpwe, apalah artinya kehadiran Wanpwe? Kehadiranku tak lebih hanya tukang teriak saja!”
“Siau sicu,” ujar It-ci Taysu dengan wajah bersungguh-sungguh, “berbicara dari kemampuan ilmu silat yang kau miliki, kehebatanmu sudah lebih dari cukup untuk memimpin umat persilatan!”
“Betul, Kongcu,” Leng Bang menambahkan pula, “Lohu bersama ketiga nona sangat memandang tinggi kemampuanmu, jika kau bersedia tampil untuk memimpin para jago, mereka pasti akan mendukungmu dengan sepenuh tenaga.”

Masih mending kalau tidak menyinggung tiga bersaudara Cu, begitu diungkit, dengan wajah serius Cau-ji segera berkata, “Cianpwe, Wanpwe tak kemaruk nama maupun pangkat, Wanpwe bersedia mengadu nyawa dengan Su Kiau-kiau tak lain karena tak tahan melihat ulahnya yang buas, tapi soal menjadi pemimpin umat persilatan … aku rasa..

“Tahukah Kongcu, ketiga nona itu adalah.. tiba-tiba Leng Bang berseru tertahan, “ah, Lohu tak
berani melanjutkan, pokoknya asal didukung mereka, tak sampai satu bulan, perkumpulan Jitseng-kau pasti sudah lenyap tertumpas!”

Namun Cau-ji bersikukuh dengan pendiriannya, kembali dia menggeleng.
“Cianpwe, membasmi kaum sesat merupakan kewajiban setiap orang, kau tak usah kelewat memaksa mereka untuk bertindak.”

Leng Bang menghela napas panjang, ia tak mampu berbicara lagi.
Sementara itu It-ci Taysu telah berkata lagi setelah termenung sebentar, “Sicu, bagaimana kalau kita mengundang Ong Sam-kongcu saja untuk tampil kembali!”
“Aai, kenapa Lohu tidak berpikir ke sana?” seru Leng Bang sambil tertawa, “bagus sekali, kalau begitu kuserahkan tugas ini kepada pihak biara Siau-lim saja untuk mengurusnya.”

It-ci Taysu manggut-manggut.
“Lolap akan melaporkan masalah ini kepada Ciangbunjin!

Author: 

Related Posts